Buku Bisnis Good To Great

Hari ini kebetulan saya mendapatkan sharing materi dari CEO Unltd* Indonesia yaitu mas Romy Cahyadi tentang sebuah buku yang berjudul Good To Great karangan Jim Collins. Dalam bukunya Jim Collins berpendapat bahwa “manusia yang tepatlah yang layak disebut aset dari perusahaan. Perusahaan hebat akan menemukan orang yang tepat terlebih dahulu sebelum menemukan visi dan misi.” Tentu hahl ini berbeda dari persepsi banyak orang bahwa manusia adalah aset dari perusahaan.

Karena penasaran akhirnya buku ini menjadi pilihan saya untuk dibaca diwaktu senggang.GTG1

Buku Jim Collins ini isinya menganalisa perusahaan perusahaan yang telah IPO di bursa saham Amerika dan lalu mengklasifikasi berdasar kelasnya masing masing, dan setelah itu Collins menyimpulkan apa  saja ciri ciri dan karakter perusahaan tersebut, tema sentral dari buku ini adalah bahwa perusahaan superior selalu memiliki target yang Sangat Spesifik, dan juga setelah itu fokus untuk mengalokasikan seluruh sumber daya mereka untuk mencapai target yang spesifik tadi.
Buku ini terdiri dari 9 bab, dan berikut ini cuplikannya yang saya sadur dari blognya Cokroaminoto.

Bab pertama “Bagus itu musuh dari Hebat”, pada bab pertama ini lah Collins menentukan kriteria apa yang dimaksud dengan superior, yang paling utama dari kriteria yang digunakan adalah pertumbuhan dan sukses yang berkelanjutan yang melebihi rata rata industri. Perusahaan yang terpilih adalah Abbott, Fannie Mae, Circuit City, Gillette, Kimberly-Clark, Kroger, Nucor, Phillip Morris, Pitney Bowes, Walgreens, dan Wells Fargo.

Collins juga memberikan sebagian dari temuan studinya, dan yang bisa dijadikan catatan adalah banyak indikator yang digunakan seperti Kompensasi untuk CEO, Teknologi, Merger dan Akuisisi, serta Change Management Inisiatif, tidak memberikan pengaruh yang besar dalam membuat perusahaan menjadi superior.

Malahan, Collins memberikan bahwa yang paling berperan membuat perusahaan menjadi Superior adalah 3 hal, yaitu yang disebut olehnya sebagai Disciplined PeopleDisciplined thought, dan Disciplined action.

Karena ketika anda punya orang orang yang disiplin, anda tidak lagi butuh hirarki, lalu kemudian anda punya displin dalam pemikiran, yang membuat anda tidak butuh birokrasi, dan terakhir ketika anda memiliki displin aksi, anda nggak lagi butuh kontrol yang berlebih.

Bab 2: Level 5 Leadership
Dalam bab ini, pak Collins memulai dengan mengidentifikasi dan kemudian menganalisa dengan detail faktor faktor yang membedakan perusahaan bagus dengan perusahaan yang istimewa (superior). Dan yang paling berperan adalah kualitas dan pondasi kepemimpinan di perusahaan. Yang oleh dia dinamakan “Level 5 leadership” sebagai karakteristik umum yang dimiliki oleh semua perusahaan Superior. Apa yang dimaksud dengan level kepemimpinan yang puncaknya adalah pemimpin uang juga sebagai pengambil keputusan strategis.

Level 5 Leadership

Level 5 Leadership inilah ciri ciri dari para pemimpin perusahaan istimewa

Dengan menganalisa perilaku para pemimpin level 5 ini, Collins menemukan suatu sifat umum yaitu determinasi yang tinggi dan rendah hati. Para pemimpin ini pada umumnya punya komitmen jangka panjang kepada perusahaan tempat mereka bekerja dalam level yang personal, dan pada umumnya mereka berasal dari dalam struktur organisasi perusahaan itu sendiri. Ego pribadi ataupun kompensasi finansial bagi mereka tidaklah sepenting tujuan jangka panjang tim dan perusahaan. Dan dengan ini, justru Collins memutarbalikkan anggapan umum di dunia manajemen dan HR bahwa dengan mengundang CEO selebriti (misalnya mengundang CEO yang sukses di satu perusahaan) untuk memperbaiki perusahaan yang sedang tiarap adalah hal yang baik. Karena kenyataannya dengan mengundang CEO selebriti ini, suasana kondusif untuk beralih dari “good” menjadi “great” malah tidak terjadi.

Bab 3: Pertama adalah “Siapa”, baru “Apa”
Faktor berikutnya yang di identifikasi oleh Collins sebagai bagian dari proses “Good to Great” adalah sifat dasar dari tim pemimpin. Secara khusus, Collins mengemukakan konsep bahwa proses mendapatkan orang orang yang high-quality dan high-talent harus dilakukan terlebih dahulu sebelum strategi dibuat. Dengan menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat, Collins berkesimpulan bahwa akan banyak masalah yang membebani organisasi dapat diatasi dengan sendirinya. Sehingga, dia menganjurkan untuk perusahaan yang berubah dari good menjadi great, perlu meluangkan ekstra usaha dan waktu dalam mencari karyawan dan pengambil keputusan.

gtg3

Colins juga menekankan pentingnya pengelolaan hal hal yang berkaitan dengan kepegawaian. Dia menyarankan untuk memindahkan karyawan yang mungkin gagal ke posisi yang baru, dan tidak ragu ragu untuk mengganti karyawan yang tidak berkontribusi. Dan dia juga menekankan bahwa keputusan untuk menerima karyawan baru ditunda sampai kandidat yang benar benar cocok ada. Dengan menjalankan dua hal ini, Collins klaim akan menghemat waktu, uang, dan tenaga di jangka panjang.

Bab 4: Hadapi Fakta Brutal (tetapi Jangan pernah menyerah)
Salah satu elemen penting lainnya dalam perusahaan yang berhasil menjadi “great” adalah kemauan untuk mengidentifikasi dan menilai fakta fakta yang ada di perusahaan dan di lingkungan bisnisnya. Dalam kondisi pasar sekarang, perubahan trend adalah hal yang niscaya, dan ketidakmampuan untuk mengikuti perubahan pada umumnya berujung kepada kegagalan perusahaan (Xerox, Sony, Nokia).

gtg4

Collins memberikan panduan 4 langkah untuk membangun kesadaran dan mengidentifikasi masalah:

  1. Mulai dengan pertanyaan pertanyaan, bukan dengan jawaban
  2. Lakukan dialog dan kemukakan argumen, bukan dengan pemaksaan.
  3. Lakukan “autopsi” tanpa menyalahkan
  4. Buat mekanisme “tanda bahaya” yang merubah informasi menjadi informasi yang tidak bisa diabaikan.

Bab 5: Konsep Landak (Sederhana dalam 3 lingkup)
Dalam bab ini, Collins menggunakan perumpamaan landak untuk menggambarkan hal yang sepertinya bertentangan, bahwa kesederhanaan akan membawa kepada kesuksesan. Jika dihadapkan kepada predator, landak hanya menunduk dan melingkarkan badannya bagai bola, adalah perilaku yang simple tetapi efektif. Walaupun pemangsanya sangat pintar seperti misalnya musang dan rubah, sangat sedikit yang bisa menanggulangi strategi yang simple yang digunakan oleh Landak secara terus menerus.

Atas dasar itu juga, startegi yang mengantarkan kita kepada kesuksesan (Good to Great) adalah bukan dengan sukses melakukan banyak hal, tetapi dengan melakukan satu hal lebih baik dari orang lain di seluruh dunia. Butuh waktu untuk menemukan “konsep landak” dari satu perusahaan, tetapi mereka yang berhasil menemukannya akan mendapatkan sukses. Dalam rangka mempercepat proses identifikasi ini, Collins menyarankan untuk menggunakan kriteria sebagai berikut:

gtg5

  1. Tentukan apa yang dapat kamu lakukan terbaik sedunia dan apa yang kamu tidak bisa menjadi yang terbaik.
  2. Tentukan apa yang menggerakkan roda ekonomi kamu.
  3. Tentukan hal apa yang membuat kamu sangat antusias.

Bab 6: Budaya Disiplin
Salah satu karakter yang menentukan dari perusahaan yang berhasil menjadi perusahaan “besar” adalah budaya disiplin dalam organisasi. Tetapi yang dimaksud dengan budaya disiplin oleh Collins disini bukanlah jenis budaya disiplin ala militer yang otoriter. Maksudnya budaya disiplin disini adalah budaya dimana setiap manager dan karyawan bekerja dengan semangat tinggi pantang menyerah, dimana setiap anggota organisasi bertindak sebagai pemilik, sehingga ketika perusahaan sukses, itu dirasakan sebagai sukses oleh mereka sebagai pribadi.

Walaupun disiplin ini akan tercermin dalam kualitas kerja karyawan, tetapi manfaat terbesarnya adalah bahwa semua karyawan akan fokus dan berusaha sesuai kemmapuan terbaik mereka untuk mencapai tujuan yang di bentuk pada bab 5, yaitu konsep landak. Sehingga karyawan yang disiplin ini akan membuat tujuan dari konsep landaknya tercapai.

Satu hal lagi, yang penting adalah perusahaan harus membekali karyawan untuk mencapai tujuannya dengan sarana dan wahana yang memadai.

Bab 7: Akselerator Teknologi
Sekarang ini, banyak bisnis yang mengandalkan teknologi untuk meningkatkan efesiensi, mengurangi biaya dan memaksimalkan keunggulan kompetitif. Tetapi Collins mengingatkan bahwa teknologi bukanlah obat mujarab untuk semua masalah perusahaan. Hal ini bisa dilihat pada saat krisis ekonomi di awal tahun 2000an yang dikenal dengan “tech buble”.

Collins berkesimpulan bahwa perusahaan yang berhasil “besar” selalu menganalisa semua teknologi baru dengan hati hati sama seperti menganalisa keputusan bisnis. Dan teknologi yang diterapkan adalah teknologi yang bersinergi dengan konsep landak dari perusahaan itu sendiri.

Bab 8: Roda gila dan lingkaran setan
Dalam bab ini, Collins menggambarkan 2 lingkaran dimana keputusan bisnis biasanya terakumulasi menjadi baik atau buruk. Semuanya bertumbuh seiring berjalannya waktu. Walaupu anggapan populer bahwa sukses atau gagalnya bisnis itu datangnya tiba tiba, Collins menyatakan bahwa sebenarnya benihnya telah ditanam dalam waktu lama dan terkumpul menjadi momentum yang menghasilkan perubahan ketika energinya mencukupi.

Collins menggambarkan lingkaran bisnis yang menguntungkan sebagai efek roda gila (flywheel effect), ketika mengambil keputusan yang selaras dengan konsep landaknya, maka perusahaan menanam momentum positif, yang seiring berjalannya waktu akan berkembang. Dan jika lingkaran ini berjalan terus, maka perubahan dari good ke great akan menjadi kenyataan.

gtg6  gtg7

Pada kutub yang satu lagi, Collins menggambarkannya dengan lingkaran setan, dengan ciri ciri pengambilan keputusan yang reaktif, fokus yang melebar kemana mana nggak jelas, ikut ikutan trend yang lagi hangat, keseringan bongkar pasang pemain (pemipin maupun karyawan), de-motivasi, dan hasil yang mengecewakan.

Bab 9: Dari “Good to Great” menuju “Built to last”
Dalam penghujung buku ini, Collins menghubungkan buku ini dengan karyanya sebelumnya yaitu “Built to last” yang merepresentasikan hasil penelitian selama enam tahun kepada faktor faktor apa saja yang menentukan suatu perusahaan baru dapat bertahan dalam jangka waktu panjang. Yang pertama sekali, perusahaan membutuhkan nilai nilai dasar untuk mencapai sukses jangka panjang yang memungkinkan mereka mencapai status perusaahaan “istimewa”.

Perusahaan perlu memiliki tujuan lebih dari sekedar mencari profit, untuk bisa berubah dari hanya sekedar perusahaan bagus. Dan menurut Collins, tujuannya tidak perlu spesifik, bahkan jika dibilang tujuannya “terbuka” seperti “menjadi terbaik di bidangnya”, itu juga cukup asalkan para anggota team juga berdedikasi untuk tujuan yang sama.

Source:

http://www.wikisummaries.org/Good_to_Great:_Why_Some_Companies_Make_the_Leap…_and_Others_Don’t

http://www.inc.com/kimberly-weisul/jim-collins-good-to-great-in-ten-steps.html

http://richard-wilson.blogspot.jp/2007/07/summary-of-good-to-great.html

http://virtual.auburnworks.org/profiles/blogs/disciplined-people

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *