Diskusi, Perkembangan Ekonomi Kreatif Di Indonesia Bersama Staff Khusus Kantor Staff Presiden di Kelas Berbagi Cianjur

Foto bersama dalam sesi diskusi kelas berbagi

Di masa kini, ekonomi kreatif telah menjadi penting sebab bersumber pada kreativitas manusia yang merupakan sumber daya terbarukan. Peran ekonomi kreatif ini akan menjadi semakin penting di masa mendatang, terutama saat sumber daya yang tidak terbarukan semakin terbatas atau langka.

Kreativitas telah dan akan terus mengubah paradigma perekonomian yang biasa berpusat pada keterbatasan (scarcity) menjadi berpusat pada keberlimpahan (abundancy).

Dari berbagai keanekaragaman potensi ekonomi kreatif di Indonesia, pemerintah kemudian membagi ekonomi kreatif kedalam 16 subsektor, yaitu kuliner; arsitektur; desain produk; desain interior; desain komunikasi visual; film, animasi dan video; musik; fesyen; seni pertunjukan; games dan aplikasi; kriya; radio dan televisi; seni rupa; periklanan; fotografi; serta penerbitan.

Hari ini menurut catatan pemerintah, tak kurang dari 12 juta tenaga kerja yang diserap oleh usaha industri kreatif ini. Bahkan telah berhasil menyumbang lebih kurang 7-8 persen dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, di Cianjur. Pergerakan ekonomi kreatif masih dipahami pada lingkup terbatas. Ekonomi kreatif menjadi “barang” aneh dikalangan pelaku penggiat ekonomi kreatif. Padahal jika bicara potensi sumber daya manusia, Cianjur tidak kalah dari kota-kota lain yang telah menggadang ekonomi kreatif sebagai pondasi ekonomi kotanya dimasa depan. Dari riset yang dilakukan Cianjur Creative Network lingkar komunitas di Cianjur, setidaknya 14 dari 16 subsektor ekonomi kreatif ada di Cianjur. Dari 14 subsektor ini, hampir 70% memiliki prestasi ditingkat nasional.

Suasana diskusi yang dihadiri puluhan komunitas dan organisasi pemuda di Cianjur
Suasana diskusi yang dihadiri puluhan komunitas dan organisasi pemuda di Cianjur

Pada sesi diskusi yang digarap Cianjur Creative Network dalam sesi kelas berbagi yang menghadirkan narasumber Dimas Oky Nugroho (Staff Khusus Kantor Staff Presiden). Muncul beberapa saran dan strategi pengembangan ekonomi kreatif berbasis sosial movement di Cianjur yang akan mengkoneksikan orang-orang kreatif di Cianjur dalam satu jejaring. Hingga kolaborasi ini akan memperkuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas.

Satu hal menarik yang saya catat dari pernyataan Dimas Oky Nugroho terkait pengembangan pariwisata Cianjur adalah. Pengembangan dan pembangunan Cianjur jangan lepas dari sejarah. Karena sejarah adalah story telling yang menjadi daya tarik besar bagi orang untuk datang ke Cianjur. Tentunya dengan banyaknya kunjungan akan meningkatkan perputaran roda ekonomi. Untuk membuat sebuah cerita yang menarik tentang sebuah kota saja, pemerintahan sebuah kota biasanya mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Sedangkan Cianjur, story itu sudah ada dan tinggal dikemas saja sehingha bisa berbiaya relatif murah. Cianjur yang lekat dengan sejarah kolonialisme tentunya akan menghadirkan memori orientalis bagi calon konsumen pariwisata dari Eropa khususnya Belanda. Untuk menghadirkan itu, tentunya perlu kerjasama antara pemerintah, komunitas dan akademisi.

Nah, kenapa komunitas? Ternyata komunitas mengerjakan hal-hal yang mereka sukai dengan passion. Sehingga totalitas karya tentunya berbeda dengan mereka yang mengerjakan hanya berdasarkan bayaran semata.

Di akhir acara, Dimas Oky Nugroho menutup kata dengan menyampaikan beberapa pesan.

Masa depan negara ini adalah kepunyaan kita anak muda. Bukan kepunyaan mereka kaum “tua”. Maka, hiduplah jujur, produktif, berbagi dan tentunya berkolaborasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *